Bangun di pagi hari, menyiapkan sarapan, memastikan kebutuhan anak sudah siap, menyelesaikan pekerjaan, membereskan rumah, menyiapkan makan malam, menemani anak, lalu tidur ketika hari sudah berakhir. Besok, semuanya dimulai lagi dari awal.
Rutinitas seperti ini mungkin terdengar sederhana ketika hanya dibaca dalam beberapa kalimat. Namun, ketika harus dijalani setiap hari, berulang kali selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, ada kalanya rasa jenuh muncul tanpa disadari.
Jenuh bukan berarti Mama tidak mencintai anak atau tidak bersyukur dengan kehidupan yang dimiliki. Terkadang, Mama hanya membutuhkan sesuatu yang berbeda setelah terlalu lama menjalani pola yang sama.
Keinginan untuk keluar sebentar dari rumah, menikmati kopi tanpa terburu-buru, bertemu teman, kembali melakukan hobi, atau sekadar memiliki waktu tenang tanpa memikirkan kebutuhan orang lain merupakan hal yang manusiawi.
Menjalani rutinitas yang sama setiap hari juga dapat membuat kehidupan terasa seperti berjalan secara otomatis. Semua tanggung jawab tetap dilakukan, tetapi perlahan rasa antusias terhadap aktivitas sehari-hari bisa berkurang.
Jika Mama sedang berada di fase tersebut, mungkin yang dibutuhkan bukan lebih banyak aktivitas. Bisa jadi, Mama justru membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak, memahami apa yang sedang dirasakan, dan memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk menjalani hari dengan cara yang sedikit berbeda.
Apa yang Dimaksud dengan Rasa Jenuh sebagai Ibu?
Rasa jenuh adalah kondisi ketika seseorang mulai kehilangan ketertarikan, antusiasme, atau energi emosional terhadap aktivitas yang dilakukan berulang kali. Dalam kehidupan seorang ibu, kejenuhan dapat muncul ketika rutinitas sehari-hari terasa monoton dan sebagian besar waktu dihabiskan untuk memenuhi berbagai kebutuhan keluarga.
Kejenuhan tidak selalu terlihat dari luar. Mama mungkin tetap bangun tepat waktu, menyiapkan kebutuhan anak, bekerja, memasak, membersihkan rumah, dan menjalankan berbagai tanggung jawab lainnya seperti biasa.
Dari luar, semuanya mungkin tampak baik-baik saja. Namun, di dalam diri, aktivitas yang sebelumnya terasa biasa saja mulai terasa berat atau kehilangan makna.
Jenuh Bukan Berarti Tidak Menyayangi Keluarga
Salah satu hal yang membuat rasa jenuh semakin berat adalah kecenderungan untuk menyalahkan diri sendiri.
Ada anggapan bahwa seorang ibu seharusnya selalu merasa bahagia dengan keluarganya. Padahal, rasa syukur dan rasa jenuh dapat hadir pada waktu yang sama.
Mama bisa sangat menyayangi anak sekaligus merasa lelah dengan rutinitas mengurusnya. Mama juga bisa bersyukur memiliki keluarga sekaligus membutuhkan waktu untuk diri sendiri.
Menjadi seorang ibu tidak berarti harus menikmati setiap aktivitas yang dilakukan setiap hari. Sama seperti seseorang dapat mencintai pekerjaannya tetapi tetap merasa lelah setelah menjalani minggu yang panjang, seorang ibu juga dapat mencintai keluarganya tanpa harus selalu merasa bersemangat.
Karena itu, ketika rasa jenuh muncul, tidak perlu langsung menganggapnya sebagai tanda bahwa ada sesuatu yang salah. Mengakui bahwa diri sedang jenuh justru dapat menjadi langkah awal untuk memahami apa yang sebenarnya sedang dibutuhkan.
Jenuh Berbeda dengan Sekadar Bosan
Rasa jenuh sebagai ibu juga tidak selalu sama dengan kebosanan biasa.
Bosan dapat muncul ketika seseorang tidak memiliki aktivitas yang menarik untuk dilakukan. Sementara itu, kejenuhan justru dapat muncul ketika terlalu banyak aktivitas dilakukan berulang kali tanpa cukup ruang untuk beristirahat, melakukan sesuatu yang berbeda, atau menikmati waktu untuk diri sendiri.
Seorang Mama bisa saja memiliki hari yang sangat padat. Ada pekerjaan, anak, rumah, pasangan, jadwal sekolah, belanja kebutuhan rumah, dan berbagai hal lain yang harus dipikirkan. Namun, di tengah kesibukan tersebut, hari tetap terasa monoton.
Karena itu, mengatasi rasa jenuh tidak selalu berarti menambah aktivitas baru. Terkadang, yang dibutuhkan bukan kalender yang lebih penuh, melainkan ruang yang lebih cukup untuk diri sendiri.
Kenapa Ibu Bisa Merasa Jenuh di Tengah Rutinitas?
Tidak ada satu alasan yang berlaku untuk semua ibu. Setiap keluarga memiliki kondisi, kebutuhan, dan tantangan yang berbeda.
Namun, ada beberapa hal yang dapat membuat rutinitas terasa semakin monoton dan melelahkan secara emosional.
Hari-Hari Terasa Terlalu Monoton
Rutinitas sebenarnya memiliki banyak manfaat. Dengan adanya rutinitas, berbagai kegiatan seperti waktu makan, tidur, pekerjaan rumah, hingga aktivitas anak dapat berjalan lebih teratur.
Namun, rutinitas yang terlalu repetitif juga dapat membuat hari-hari terasa seperti salinan dari hari sebelumnya.
Ketika sebagian besar waktu diisi dengan aktivitas yang sama, otak akan terbiasa menjalankannya secara otomatis. Mama tetap menyelesaikan berbagai tugas, tetapi semakin sedikit hal baru yang dirasakan dari aktivitas tersebut.
Bukan berarti rutinitas harus dihilangkan. Mama mungkin hanya membutuhkan sedikit variasi di dalamnya.
Perubahan sederhana seperti mencoba tempat sarapan baru, mengambil rute jalan yang berbeda, membaca buku di tempat yang berbeda, atau menyempatkan diri keluar rumah sebentar dapat memberikan pengalaman baru tanpa harus mengubah seluruh rutinitas.
Selalu Ada Kebutuhan Orang Lain yang Harus Didahulukan
Menjadi ibu berarti memiliki banyak hal yang perlu diperhatikan. Anak membutuhkan sesuatu, pasangan membutuhkan perhatian, rumah perlu diurus, dan pekerjaan juga harus diselesaikan.
Bahkan ketika sedang duduk dan beristirahat, pikiran mungkin masih memikirkan berbagai hal yang harus dilakukan setelahnya: menyiapkan bekal, membeli kebutuhan rumah, menyelesaikan pekerjaan, atau memastikan jadwal anak untuk esok hari.
Tanpa disadari, kebutuhan orang lain bisa terus berada di depan kebutuhan diri sendiri.
Jika pola ini berlangsung dalam waktu lama, Mama dapat kehilangan kesempatan untuk memperhatikan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh diri sendiri. Padahal, kebutuhan tersebut juga penting.
Kurangnya Waktu untuk Diri Sendiri
Waktu untuk diri sendiri tidak selalu berarti satu hari penuh tanpa keluarga.
Hal-hal sederhana seperti membaca beberapa halaman buku, berjalan sebentar, menikmati minuman favorit, melakukan skincare dengan tenang, atau mengobrol dengan teman dapat menjadi ruang personal yang berarti.
Sayangnya, waktu seperti ini sering menjadi hal pertama yang dikorbankan ketika kesibukan meningkat. Ada anggapan bahwa waktu untuk diri sendiri baru boleh diambil setelah seluruh pekerjaan selesai.
Masalahnya, daftar pekerjaan rumah dan tanggung jawab keluarga tidak selalu benar-benar selesai. Setelah satu pekerjaan selesai, pekerjaan lain biasanya sudah menunggu.
Jika waktu untuk diri sendiri selalu menunggu sampai semua tanggung jawab selesai, Mama mungkin akan terus menundanya.
Karena itu, waktu untuk diri sendiri sebaiknya tidak dipandang sebagai hadiah setelah semua pekerjaan selesai. Waktu tersebut juga merupakan bagian dari kehidupan yang perlu diberi ruang.
Beban Mental yang Tidak Terlihat
Tidak semua pekerjaan yang dilakukan seorang ibu dapat terlihat secara fisik.
Membersihkan rumah, memasak, dan mengantar anak merupakan pekerjaan yang terlihat. Namun, mengingat jadwal anak, memikirkan menu makanan, merencanakan belanja, mengingat kebutuhan sekolah, atau memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi juga membutuhkan energi.
Beban untuk terus mengingat dan mengantisipasi berbagai kebutuhan tersebut dapat membuat pikiran terasa penuh, bahkan ketika tubuh tidak sedang melakukan aktivitas berat.
Itulah sebabnya rasa lelah tidak selalu berasal dari pekerjaan fisik. Pikiran yang terus bekerja juga membutuhkan energi.
Kehilangan Ruang untuk Menjadi Diri Sendiri
Sebelum menjadi ibu, Mama mungkin memiliki banyak hal yang mendefinisikan dirinya. Mungkin suka membaca, berdandan, bekerja, bepergian, fotografi, bertemu teman, atau mengejar mimpi tertentu.
Setelah menjadi ibu, sebagian dari hal tersebut mungkin harus berubah. Perubahan ini merupakan bagian yang wajar dari kehidupan.
Namun, jika seluruh identitas pribadi perlahan tersisihkan sampai yang tersisa hanya berbagai kewajiban, Mama dapat mulai merasa kehilangan sebagian dari dirinya.
Menjadi ibu hanyalah salah satu bagian dari identitas seseorang, bukan keseluruhannya. Mama tetap memiliki minat, kebutuhan, keinginan, dan kehidupan pribadi yang juga layak diperhatikan.
Karena itu, mengatasi rasa jenuh terkadang bukan hanya tentang mencari aktivitas baru. Bisa jadi, yang dibutuhkan adalah menemukan kembali bagian dari diri yang sempat terlalu lama diletakkan di belakang.
Tanda-Tanda Mama Sedang Mengalami Kejenuhan
Rasa jenuh tidak selalu muncul dalam bentuk keinginan untuk meninggalkan rutinitas. Kehadirannya bisa terasa lebih samar.
Hari tetap berjalan, pekerjaan tetap selesai, anak tetap mendapatkan perhatian, dan rumah tetap diurus. Namun, ada perasaan bahwa Mama hanya sedang menjalankan hari, bukan benar-benar menikmatinya.
Beberapa tanda berikut dapat menjadi hal yang perlu diperhatikan.
Hari-Hari Terasa Monoton
Hampir setiap hari memiliki pola yang sama: bangun, mengurus kebutuhan keluarga, bekerja, membereskan rumah, tidur, lalu mengulanginya kembali.
Tidak ada sesuatu yang benar-benar buruk, tetapi juga tidak banyak hal yang terasa menyenangkan atau baru.
Kondisi ini dapat membuat waktu terasa berjalan begitu saja. Akhir minggu datang, kemudian akhir bulan, tetapi Mama sulit mengingat kapan terakhir kali melakukan sesuatu yang benar-benar membuat diri merasa bersemangat.
Mudah Merasa Kesal atau Kehilangan Kesabaran
Ketika energi emosional mulai terkuras, hal-hal kecil yang biasanya masih dapat ditoleransi mungkin terasa lebih mengganggu.
Suasana rumah yang berisik, rumah yang kembali berantakan setelah dirapikan, atau pekerjaan yang tiba-tiba bertambah dapat membuat Mama lebih mudah merasa kesal.
Kondisi ini tidak otomatis berarti Mama menjadi ibu yang buruk. Bisa jadi, tubuh dan pikiran sedang membutuhkan jeda.
Ingin Punya Waktu Sendiri
Ada kalanya Mama hanya ingin berada sendirian untuk sementara waktu.
Bukan karena tidak ingin bersama anak, tetapi karena rasanya menyenangkan membayangkan beberapa menit tanpa ada yang memanggil atau membutuhkan sesuatu.
Keinginan untuk memiliki ruang pribadi merupakan hal yang wajar. Membutuhkan waktu sendiri tidak mengurangi rasa sayang kepada keluarga.
Mulai Kehilangan Minat terhadap Hal yang Dulu Disukai
Mama mungkin pernah memiliki hobi yang membuat waktu terasa cepat berlalu. Namun sekarang, buku hanya tersimpan di rak, peralatan olahraga tidak lagi digunakan, dan teman-teman mulai jarang ditemui.
Aktivitas yang dulu menyenangkan bahkan bisa terasa seperti sesuatu yang terlalu merepotkan untuk dimulai.
Jika hal ini berlangsung cukup lama, mungkin sudah waktunya untuk kembali memperhatikan hal-hal yang pernah membuat Mama merasa menjadi diri sendiri.
Merasa Hanya Menjalankan Kewajiban
Salah satu tanda kejenuhan adalah ketika aktivitas sehari-hari mulai terasa seperti daftar tugas yang harus diselesaikan.
Memasak tidak lagi terasa sebagai aktivitas yang ingin dilakukan, tetapi sekadar sesuatu yang harus dikerjakan. Begitu pula dengan menemani anak, membereskan rumah, atau menyelesaikan pekerjaan.
Ketika hampir seluruh kehidupan dipenuhi kata “harus”, ruang untuk melakukan sesuatu karena benar-benar “ingin” dapat semakin sedikit.
Ingin Mengubah Suasana, tetapi Tidak Tahu Harus Mulai dari Mana
Mama mungkin merasa ingin pergi ke suatu tempat, mencoba sesuatu yang baru, atau sekadar mengubah suasana.
Namun, ketika akhirnya memiliki waktu luang, justru tidak tahu ingin melakukan apa.
Hal ini dapat terjadi ketika seseorang sudah terlalu lama berada dalam rutinitas dan terbiasa mengutamakan kebutuhan orang lain.
Tidak perlu langsung menemukan jawaban besar. Mama dapat memulainya dengan memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk mencoba sesuatu tanpa tuntutan bahwa aktivitas tersebut harus produktif atau menghasilkan sesuatu.
Cara Mengatasi Rasa Jenuh sebagai Ibu
Setelah menyadari adanya rasa jenuh, langkah berikutnya adalah mencari tahu apa yang dapat dilakukan.
Mama tidak harus langsung mengambil liburan panjang, mengubah pekerjaan, atau membuat perubahan besar dalam kehidupan.
Sering kali, kejenuhan dapat mulai dikurangi melalui perubahan kecil yang memberikan ruang untuk bernapas dan mengingat bahwa kehidupan tidak hanya terdiri dari kewajiban.
1. Akui Bahwa Mama Sedang Jenuh
Langkah pertama adalah mengakui perasaan tersebut tanpa langsung menyalahkan diri sendiri.
Mengatakan bahwa sedang jenuh tidak sama dengan mengatakan bahwa Mama tidak bersyukur atau tidak menyayangi keluarga.
Perasaan hanyalah sesuatu yang sedang dirasakan. Dengan mengakuinya, Mama dapat mulai memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan.
Coba perhatikan kembali beberapa hari atau minggu terakhir. Apakah Mama lebih membutuhkan istirahat? Apakah rutinitas terasa terlalu monoton? Apakah tanggung jawab terlalu banyak? Atau mungkin sudah terlalu lama tidak melakukan sesuatu yang benar-benar disukai?
Tidak semua kejenuhan membutuhkan solusi yang sama. Karena itu, memahami perasaannya terlebih dahulu dapat membantu menentukan langkah yang lebih sesuai.
2. Cari Tahu Apa yang Sebenarnya Membuat Mama Jenuh
Terkadang kita hanya tahu bahwa sedang merasa tidak nyaman, tetapi belum memahami penyebabnya.
Coba perhatikan bagian mana dari rutinitas yang paling menguras energi. Bisa jadi pekerjaan rumah yang tidak pernah selesai, terlalu sedikit waktu untuk diri sendiri, terlalu banyak tanggung jawab, atau kurangnya aktivitas yang memberikan sesuatu untuk dinantikan.
Mama dapat menuliskan beberapa hal yang akhir-akhir ini terasa paling melelahkan.
Tidak perlu langsung mencari solusinya. Tujuannya adalah mengenali sumber kejenuhan terlebih dahulu.
Dengan begitu, Mama dapat membedakan apakah yang dibutuhkan adalah istirahat, bantuan dari orang lain, perubahan rutinitas, atau kesempatan untuk melakukan sesuatu yang disukai.
3. Beri Sedikit Variasi pada Rutinitas
Rutinitas membantu kehidupan menjadi lebih teratur, tetapi tidak berarti setiap hari harus berjalan dengan cara yang persis sama.
Mama dapat memberikan sedikit variasi melalui perubahan sederhana.
Sesekali, ajak keluarga sarapan di luar. Coba berjalan di tempat yang berbeda. Jika pekerjaan memungkinkan, pilih suasana kerja yang berbeda. Di rumah, Mama juga bisa mengubah posisi meja, menambahkan tanaman, atau sekadar membuka jendela agar suasana terasa lebih segar.
Tujuannya bukan menciptakan kehidupan yang selalu penuh aktivitas baru. Perubahan kecil saja sudah cukup untuk memberikan pengalaman yang berbeda dan membuat hari terasa tidak sepenuhnya sama dengan sebelumnya.
4. Sisihkan Waktu yang Benar-Benar Milik Mama
Tidak semua waktu luang harus digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan rumah.
Ketika anak sedang tidur atau ada anggota keluarga lain yang bisa membantu, Mama tidak selalu harus menggunakan waktu tersebut untuk membereskan rumah.
Sesekali, gunakan waktu itu untuk diri sendiri.
Minum kopi sambil membaca beberapa halaman buku, menonton satu episode serial favorit, melakukan skincare dengan tenang, mendengarkan musik, duduk di teras, atau bahkan tidak melakukan apa pun selama beberapa menit.
Me time tidak harus berlangsung lama untuk menjadi berarti. Yang penting, Mama memiliki ruang yang tidak selalu diisi oleh kebutuhan orang lain.
Merawat diri juga bukan berarti mengabaikan keluarga. Mama merupakan bagian dari keluarga yang juga perlu diperhatikan.
5. Kembali Melakukan Hal yang Mama Sukai
Sebelum menjadi ibu, mungkin ada banyak aktivitas yang membuat Mama merasa menjadi diri sendiri.
Mungkin Mama suka berdandan, membaca novel, menggambar, memasak, fotografi, berkebun, berolahraga, atau bertemu teman.
Setelah menjadi ibu, beberapa aktivitas tersebut mungkin harus berhenti sementara. Namun, “sementara” terkadang dapat berlangsung jauh lebih lama dari yang direncanakan.
Karena itu, cobalah kembali pada hal-hal yang dulu disukai.
Tidak perlu langsung menyediakan waktu berjam-jam. Jika dulu suka membaca, mulai dengan lima halaman sebelum tidur. Jika dulu suka olahraga, mulai dengan berjalan kaki selama 15 menit. Jika rindu bertemu teman, kirim pesan dan tanyakan kabarnya.
Kembali kepada diri sendiri tidak harus dilakukan melalui langkah besar. Terkadang, cukup membuka kembali pintu menuju hal-hal yang sudah lama ditinggalkan.
6. Jangan Takut Meminta Bantuan
Ada kalanya rasa jenuh bukan karena Mama membutuhkan aktivitas baru, tetapi karena beban yang sedang dibawa memang terlalu banyak.
Jika hampir semua urusan rumah dan keluarga bergantung kepada Mama, tentu akan sulit memiliki energi untuk melakukan hal lain.
Meminta bantuan dapat menjadi bagian dari solusi.
Pasangan mungkin dapat mengambil alih beberapa pekerjaan rumah. Keluarga dapat membantu menjaga anak selama beberapa jam. Teman juga bisa menjadi tempat berbagi cerita.
Bantuan tidak selalu harus berupa sesuatu yang besar. Bahkan berkurangnya satu tugas dari daftar tanggung jawab dapat memberikan ruang mental yang lebih lega.
Mama tidak harus melakukan semuanya sendiri untuk membuktikan bahwa Mama mampu.
7. Izinkan Ada Hari yang Tidak Produktif
Ketika merasa jenuh, ada kecenderungan untuk segera mencari aktivitas agar kembali produktif.
Namun, tidak setiap hari harus menghasilkan sesuatu.
Ada hari ketika rumah tidak serapi biasanya. Ada hari ketika Mama memilih membeli makanan daripada memasak. Ada hari ketika pekerjaan rumah hanya diselesaikan pada bagian yang paling penting.
Ada pula hari ketika Mama hanya ingin beristirahat.
Hari seperti itu bukan kegagalan.
Istirahat tidak harus menghasilkan sesuatu. Mama juga tidak perlu mengubah setiap waktu kosong menjadi kesempatan untuk menjadi lebih produktif.
Terkadang, membiarkan diri sendiri berhenti sejenak dan tidak melakukan apa-apa justru merupakan hal yang sedang dibutuhkan.
8. Ciptakan Rutinitas yang Lebih Fleksibel
Rutinitas seharusnya membantu Mama menjalani kehidupan, bukan membuat Mama merasa terjebak di dalamnya.
Karena itu, coba lihat kembali rutinitas sehari-hari. Apakah semua hal benar-benar harus dilakukan pada waktu dan cara yang sama? Apakah ada pekerjaan yang bisa dilakukan lebih jarang? Apakah ada tugas yang dapat dibagi dengan anggota keluarga lain? Apakah ada aktivitas yang sebenarnya bisa disederhanakan?
Tidak semua rutinitas harus dipertahankan hanya karena sudah dilakukan selama bertahun-tahun.
Kebutuhan keluarga dapat berubah, begitu pula dengan kondisi dan kebutuhan Mama. Karena itu, tidak ada salahnya menyesuaikan kembali cara menjalani rutinitas.
Rutinitas tetap dapat memiliki struktur, tetapi sebaiknya tetap memberikan ruang untuk bernapas.
Terkadang, sedikit fleksibilitas justru dapat membuat kehidupan sehari-hari terasa jauh lebih ringan.
Jenuh Bukan Berarti Mama Gagal Menjadi Ibu
Rasa jenuh dapat muncul bahkan ketika Mama sangat menyayangi keluarga.
Menjadi ibu memang membawa banyak perubahan dalam kehidupan. Ada tanggung jawab baru, rutinitas yang berbeda, kebutuhan keluarga yang harus diperhatikan, dan sering kali lebih sedikit waktu untuk diri sendiri.
Karena itu, ketika kejenuhan muncul, Mama tidak perlu langsung menganggapnya sebagai tanda bahwa dirinya tidak bersyukur atau tidak cukup baik sebagai seorang ibu.
Mungkin yang sedang dibutuhkan hanyalah jeda.
Jeda untuk beristirahat, melakukan sesuatu yang disukai, meminta bantuan, mengubah rutinitas, atau sekadar mengingat kembali bahwa di balik peran sebagai ibu, masih ada seorang perempuan dengan kebutuhan dan kehidupan pribadi yang juga layak diperhatikan.
Tidak harus langsung melakukan perubahan besar. Mulailah dari hal yang paling mungkin dilakukan hari ini.
Secangkir kopi yang dinikmati tanpa terburu-buru. Jalan kaki selama beberapa menit. Menghubungi teman lama. Membaca beberapa halaman buku. Atau memberikan diri sendiri izin untuk beristirahat tanpa merasa bersalah.
Karena terkadang, mengatasi rasa jenuh bukan tentang membuat kehidupan menjadi lebih sibuk.
Justru, mungkin tentang membuat sedikit ruang agar Mama bisa kembali hadir dalam kehidupan yang sedang dijalani.
