
Notifikasi grup WhatsApp lama itu tiba-tiba ramai lagi. "Hey, kita reunian yuk, udah lama banget nggak ketemu." Nama grupnya masih sama seperti sepuluh tahun lalu, isinya masih orang-orang yang sama, hanya saja foto profilnya sudah berganti jadi foto keluarga, bukan lagi foto seragam sekolah.
Ada jeda cukup lama sebelum akhirnya mengetik balasan. Kepala sudah mulai menghitung, siapa yang jaga anak kalau berangkat, jam berapa harus pulang, apa masih pantas dandan seperti dulu. Tapi di sela semua pertimbangan itu, ada satu rasa kecil yang susah diabaikan, rasa kangen yang ternyata masih ada, bahkan setelah bertahun-tahun sibuk dengan urusan masing-masing.
Beberapa Hari Sebelum Hari-H
Sejak grup itu sepakat menentukan tanggal, ada semacam getaran kecil yang muncul setiap kali notifikasi bunyi. Satu per satu teman lama mulai konfirmasi kehadiran, disertai stiker-stiker lucu dan candaan yang langsung mengembalikan suasana seperti dulu, seolah waktu sepuluh tahun tidak pernah benar-benar berjarak.
Namun di balik keseruan itu, ada pekerjaan rumah tangga kecil yang harus diselesaikan lebih dulu. Menyusun jadwal siapa yang menjaga anak, memastikan stok susu dan camilan cukup untuk semalam, sampai menitipkan pesan panjang lebar ke suami soal jam tidur anak yang jangan sampai terlewat. Semua persiapan ini dilakukan sambil tetap menjalani rutinitas harian yang biasa, seolah-olah tidak ada yang istimewa akan terjadi.
Malam sebelum acara, lemari pakaian dibongkar lebih lama dari biasanya. Bukan untuk mencari yang paling baru atau paling mahal, tapi untuk mencari sesuatu yang terasa seperti "diri sendiri", bukan sekadar pakaian yang praktis untuk momong anak sepanjang hari. Ada semacam kegembiraan kecil saat akhirnya menemukan outfit yang pas, dipadukan dengan sepasang wedges Mamasoul yang sudah lama tersimpan rapi, menunggu momen yang tepat untuk dipakai kembali.
Ketika Akhirnya Duduk di Meja yang Sama
Malam itu akhirnya datang juga. Perjalanan menuju tempat kumpul terasa lebih berdebar dari yang dibayangkan, seperti kembali merasakan gugup versi remaja yang mau bertemu geng lamanya. Begitu masuk ke tempat yang disepakati, suara tawa dari meja pojok langsung terdengar, dan tanpa perlu bertanya, sudah tahu itu meja yang dicari.
Pelukan pertama terasa aneh sekaligus lega, seperti bertemu potongan waktu yang sempat hilang. Ada yang badannya berubah, ada yang gaya rambutnya beda jauh dari terakhir kali bertemu, tapi begitu saling menyapa, semua terasa familiar, seolah tidak ada jeda waktu sepanjang itu di antara pertemuan terakhir dan sekarang.
Obrolan mengalir sendiri tanpa perlu dipancing. Dari cerita anak yang baru masuk sekolah, keluhan soal pekerjaan, sampai tiba-tiba ada yang nyeletuk soal kejadian memalukan waktu SMA yang bikin satu meja tertawa keras sampai mengundang tatapan penasaran dari meja sebelah. Tidak ada yang perlu dijelaskan dari awal, karena mereka sudah tahu ceritanya, bahkan sebelum semua peran sekarang ini ada.
Untuk beberapa jam, tidak ada yang bertanya, "Mama dari mana?" atau memanggil dengan embel-embel nama anak. Hanya nama sendiri, dipanggil oleh orang-orang yang mengenalnya jauh sebelum nama itu berubah jadi "Ibunya siapa." Rasanya seperti mengenakan kembali identitas lama yang selama ini disimpan rapi di lemari, jarang dipakai, tapi tetap pas begitu dikenakan lagi.
Cerita yang Hanya Bisa Dipahami oleh Mereka yang Ada di Sana
Satu per satu cerita mulai keluar, tentang siapa yang sekarang tinggal di kota lain, siapa yang baru pindah kerja, siapa yang masih single dan menikmati hidupnya, sampai siapa yang sekarang punya tiga anak dan hidupnya penuh drama setiap pagi. Tidak ada yang saling menghakimi pilihan hidup masing-masing, karena semua orang di meja itu tahu, setiap jalan punya cerita panjang di baliknya yang tidak selalu terlihat dari luar.
Ada momen ketika salah satu teman tiba-tiba mengeluarkan foto lama dari galeri ponselnya, foto study tour semasa sekolah yang entah kenapa masih tersimpan rapi bertahun-tahun. Semua orang berebutan melihat, tertawa melihat gaya rambut dan pakaian yang sekarang terasa lucu, sambil mengingat-ingat detail kecil yang sudah lama terlupakan, seperti nama guru galak atau jajanan favorit di kantin sekolah.
Di tengah tawa itu, ada juga momen hening sesaat ketika salah satu teman bercerita tentang masa-masa sulitnya menjadi orang tua baru, tentang malam-malam tanpa tidur, tentang rasa lelah yang kadang tidak sanggup diceritakan ke siapa pun karena takut dianggap tidak bersyukur. Semua yang mendengar mengangguk pelan, karena ternyata bukan hanya dia yang merasakan hal serupa, hanya saja selama ini masing-masing memilih diam dan berusaha terlihat baik-baik saja.
Rasa Bersalah yang Ikut Datang di Tengah Tawa
Di sela obrolan yang ramai, ponsel bergetar sekali. Sekadar cek jam, dan tiba-tiba muncul pikiran, "Ini sudah berapa jam, ya, aku di sini?" Rasa senang yang tadi terasa penuh, perlahan diselipi rasa bersalah yang datang tanpa diundang, seperti suara kecil yang selalu siap muncul setiap kali mama mencoba menikmati waktu untuk dirinya sendiri.
Padahal di rumah, semuanya baik-baik saja. Suami atau keluarga sudah dengan senang hati menjaga anak, bahkan sempat mengirim foto anak sedang tertawa lepas bermain bersama ayahnya. Foto itu seharusnya cukup untuk meyakinkan bahwa semuanya terkendali, tapi entah kenapa, kepala tetap saja mencoba menghitung ulang, apakah waktu ini sudah terlalu lama dihabiskan untuk diri sendiri.
Perasaan ini sebenarnya wajar dan dialami banyak mama, terutama mereka yang terbiasa menempatkan kebutuhan keluarga jauh di atas kebutuhan pribadi. Rasa bersalah semacam ini jarang muncul karena benar-benar melakukan kesalahan, melainkan karena standar tidak tertulis yang mengatakan bahwa waktu mama seharusnya selalu diprioritaskan untuk orang lain, bukan untuk dirinya sendiri.
Memilih untuk Benar-Benar Hadir
Ada satu keputusan kecil yang akhirnya diambil malam itu, meletakkan ponsel lebih lama di dalam tas, dan membiarkan diri benar-benar berada di momen itu. Bukan setengah hadir sambil kepala tetap di rumah, tapi benar-benar duduk, mendengarkan, dan tertawa tanpa beban, setidaknya untuk beberapa jam ke depan.
Malam itu berjalan panjang, dari satu tempat makan, pindah ke kafe untuk lanjut ngobrol, lalu jalan kaki sebentar sambil foto-foto di depan tempat yang dulu sering disinggahi bersama semasa masih sama-sama sekolah. Beberapa teman bahkan mengusulkan untuk mampir sebentar ke toko oleh-oleh kecil di dekat situ, sekadar untuk melihat-lihat dan bernostalgia dengan suasana yang dulu sering mereka lewati bersama sepulang sekolah.
Kaki yang tadinya sempat khawatir bakal pegal karena harus banyak berpindah tempat, ternyata tetap terasa ringan sampai malam berakhir, berkat wedges MAMASOUL yang sejak awal sudah dipilih dengan pertimbangan bukan cuma soal gaya, tapi juga soal seberapa jauh kaki ini harus diajak bergerak. Sol yang menopang penuh membuat langkah tetap stabil, bahkan saat harus berjalan cukup jauh dengan permukaan jalan yang tidak selalu rata, tanpa perlu berhenti sesekali hanya untuk meregangkan kaki yang pegal.
Ada kepuasan tersendiri saat menyadari bahwa malam itu bisa dinikmati sepenuhnya, tanpa terganggu oleh rasa tidak nyaman di kaki yang biasanya muncul kalau memilih sepatu hanya berdasarkan tampilan saja. Percaya diri yang muncul dari penampilan yang tetap rapi, dipadukan dengan kenyamanan yang tidak mengorbankan mobilitas, membuat seluruh momen reuni terasa lebih maksimal untuk dinikmati.
Perjalanan Pulang yang Terasa Berbeda
Menjelang tengah malam, satu per satu mulai berpamitan, dengan janji-janji khas reuni yang biasanya diucapkan setiap kali acara semacam ini berakhir, "Jangan lama-lama lagi ya nggak ketemu," atau "Next time bawa anak-anak sekalian, biar mereka juga kenalan." Meski tahu janji-janji ini belum tentu terlaksana secepat yang diucapkan, ada kehangatan tersendiri mendengarnya, seolah mengonfirmasi bahwa ikatan pertemanan ini masih ada meski waktu terus berjalan.
Di dalam perjalanan pulang, ada rasa lelah yang berbeda dari lelah sehari-hari mengurus rumah dan anak. Lelah ini terasa lebih ringan, dipenuhi oleh kepuasan dan kehangatan setelah berjam-jam tertawa lepas tanpa beban. Sepanjang jalan, pikiran masih dipenuhi potongan-potongan cerita malam itu, membuat bibir tanpa sadar terus tersenyum sendiri mengingat lelucon-lelucon yang tadi dilontarkan teman-teman lama.
Kenapa Pertemanan Lama Terasa Berbeda dari Pertemanan Baru
Ada alasan kenapa pertemanan yang terjalin sejak lama terasa lebih ringan dibanding hubungan pertemanan yang baru terbentuk di usia dewasa. Teman lama biasanya sudah melewati berbagai fase kehidupan bersama, mulai dari masa remaja yang penuh drama kecil, masa kuliah yang penuh eksperimen, sampai fase awal memasuki dunia kerja yang serba baru dan menakutkan.
Karena sudah melewati begitu banyak fase bersama, teman lama biasanya punya pemahaman yang lebih dalam tentang siapa kita sebenarnya, bukan cuma versi kita yang terlihat rapi dan terkendali di depan orang banyak. Mereka tahu sisi konyol, sisi cengeng, bahkan sisi paling berantakan dari diri kita, dan tetap memilih untuk ada di sekitar kita meski sudah tahu semua itu.
Berbeda dengan pertemanan sesama orang tua yang baru terbentuk setelah menikah atau punya anak, yang sering kali terbentuk berdasarkan kesamaan situasi saat ini, misalnya sama-sama punya anak seusia atau tinggal di kompleks yang sama. Pertemanan semacam ini juga berharga, tapi sifatnya berbeda, karena biasanya baru mengenal versi kita yang sudah menjadi orang tua, tanpa benar-benar tahu seperti apa diri kita sebelum peran itu ada.
Psikolog sering menyebut bahwa memiliki ruang untuk terhubung dengan identitas lama, di luar peran sebagai orang tua, penting untuk menjaga rasa utuh sebagai individu. Tanpa ruang semacam ini, seseorang bisa perlahan kehilangan koneksi dengan siapa dirinya sebenarnya, karena seluruh waktu dan energi habis terserap oleh peran dan tanggung jawab baru yang datang seiring bertambahnya usia.
Reuni Bukan Kemewahan, Tapi Kebutuhan
Banyak mama menganggap reuni atau sekadar kumpul dengan teman lama sebagai sesuatu yang bisa ditunda, kalah prioritas dibanding kebutuhan keluarga yang terasa lebih mendesak. Padahal, menjaga hubungan dengan lingkaran pertemanan lama bukan sekadar hiburan semata, melainkan salah satu cara menjaga kesehatan mental jangka panjang.
Ketika seseorang terus-menerus berada dalam satu peran tanpa jeda, risiko kelelahan emosional atau burnout menjadi lebih besar. Momen seperti reuni memberi ruang untuk melepaskan sejenak beban peran tersebut, mengisi ulang energi, sekaligus mengingatkan diri sendiri bahwa ada banyak sisi dari diri sendiri yang layak dirawat, bukan cuma sisi sebagai orang tua.
Karena itu, alih-alih menunggu waktu luang yang sempurna untuk bertemu teman lama, mungkin lebih baik menjadikannya sebagai prioritas yang sengaja diusahakan, meski hanya sesekali dalam setahun. Sama seperti kebutuhan lain yang dijadwalkan secara sadar, waktu untuk diri sendiri dan pertemanan lama juga layak mendapatkan tempat dalam kalender yang biasanya penuh dengan jadwal anak dan pekerjaan rumah.
Sampai di rumah, anak sudah tertidur, tapi ada rasa berbeda yang dibawa pulang malam itu. Bukan cuma foto-foto di galeri ponsel, tapi rasa terhubung kembali dengan bagian dari diri sendiri yang selama ini jarang punya ruang untuk muncul di tengah rutinitas sehari-hari sebagai mama.
Keesokan paginya, rutinitas biasa kembali berjalan seperti sedia kala, menyiapkan sarapan, mengantar anak sekolah, dan menjalani hari yang sama seperti biasanya. Tapi ada sesuatu yang terasa berbeda, semacam energi tambahan yang sulit dijelaskan, seolah tangki yang selama ini kosong sudah terisi kembali, meski hanya untuk semalam.
Reuni malam itu mengingatkan bahwa menjadi mama tidak pernah benar-benar menghapus siapa dirinya sebelum semua ini dimulai. Identitas sebagai teman, sebagai individu dengan cerita dan kenangannya sendiri, tetap ada di sana, hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali dikenakan.
Dan mungkin, cara terbaik untuk kembali menjadi mama yang lebih utuh esok pagi, justru dimulai dari satu malam ketika ia berani melepas peran itu sejenak, dan menjadi dirinya sendiri seutuhnya. Karena pada akhirnya, mama yang sempat mengisi ulang energinya lewat momen-momen kecil seperti ini, biasanya kembali dengan versi terbaik dari dirinya, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk keluarga yang menunggu di rumah.
Grup WhatsApp lama itu kini ramai lagi, bukan cuma dengan candaan, tapi juga dengan foto-foto malam reuni yang saling dibagikan keesokan harinya. Di antara foto-foto itu, muncul juga rencana kecil, "Kapan-kapan kumpul lagi ya, jangan nunggu lama." Dan kali ini, entah kenapa, rasanya rencana itu punya kemungkinan lebih besar untuk benar-benar terwujud, karena setiap orang di grup itu kini sama-sama tahu, betapa berharganya waktu semalam yang berhasil mereka curi dari kesibukan masing-masing.